Minggu, 10 Maret 2019

THE POWER OF LITERACY & SOCIAL WORKS




“Lakukan hal-hal kecil yang positif. Kita tidak tahu bagaimana hal kecil itu bisa bermanfaat bagi yang lain suatu hari nanti” ~ Debz

Pada dasarnya, setiap orang memiliki hati yang baik yang mudah tersentuh dan peduli pada sesama. Hanya mungkin mereka tak paham bagaimana menyalurkan kebaikan hatinya itu. Banyak yang berpikir bahwa membantu sesama adalah dengan materi. Padahal berbagi sebenarnya tak harus melulu tentang materi. Berbagi ilmu pun merupakan suatu kebaikan yang bisa kita lakukan secara mudah dan sederhana. Yang penting, lakukan semuanya itu dengan tulus tanpa berharap apa pun.

Sejak kecil, saya sudah terbiasa melihat almarhumah ibu saya mengajar di kelas gratisnya di sebuah kampung di kota Solo. Walaupun hanya satu kali seminggu, namun kelas gratis ini mengundang banyak anak-anak kampung untuk datang dan berkegiatan bersama. Tak hanya belajar Matematika atau baca-tulis, namun ibu saya juga mengajarkan keterampilan sederhana dan kelas masak yang paling disukai anak-anak. Aroma bolu kukus hingga aroma klepon yang legit cukup sering mewarnai kelas memasak yang diadakan oleh ibu saya dengan alat-alat sederhana yang ada di rumah. Satu hal yang saya tangkap saat itu: anak-anak mampu merekam serta memahami apa yang diajarkan dengan mudah jika semua itu dilakukan dengan ‘cara senang-senang’ dan terjun langsung mempraktekkannya. Selain itu, saya juga melihat ketulusan ibu saya dalam melakukannya secara gratis dan sukarela, bahkan mengeluarkan biaya sendiri dari uang gajinya yang tak seberapa.  

Kepindahan saya ke Bali, mempertemukan saya dengan sosok-sosok baik hati, seperti kak Dewa Gede Agung Dharmayasa yang akhirnya kami sepakat mendirikan Komunitas Kanaditya. Walaupun sudah berjalan secara tidak resmi sejak jauh hari, namun kami tentukan resminya komunitas ini pada Januari 2012. Kanaditya sendiri berasal dari gabungan dua Bahasa Sanskerta ‘Kanaka’ dan ‘Aditya’ yang bermakna ‘Matahari. Kanaditya focus pada literasi, edukasi dan social works bagi anak-anak yang membutuhkan dari keluarga kurang mampu. Selain Matahari memiliki makna menyinari tanpa pamrih, kami juga yakin bahwa setiap anak asuh Kanaditya bisa menjadi cahaya bagi diri dan sekitarnya suatu hari nanti. Saat ini, selain di sekolah-sekolah formal yang mengundang kami, Kanaditya juga rutin memberikan edukasi non-formal pada anak-anak penderita kanker di rumah sakit, pasien anak serta keluarga pasien di sebuah rumah sakit di Badung, anak-anak buruh suwun di pasar, anak-anak berkebutuhan khusus hingga anak-anak penyandang cacat fisik di sebuah sekolah. Tak hanya di Bali, Kanaditya juga cukup sering mendapat undangan untuk berkegiatan bersama para pengungsi (Afghanistan, Somalia, Eritrea dan Ethiopia) binaan UNHCR serta anak-anak penderita Thalassemia di Bogor dan Bekasi.

Tips dari Kanaditya:
  • Tak perlu menunggu untuk melakukan aksi. Semua pasti sudah paham tentang rule nomor 1 ini, namun mungkin banyak yang tak tahu bagaimana melakukan aksi tersebut. Amati lingkungan sekitar dan temukan apa yang diperlukan oleh orang-orang di sekitar kita sepertinya menjadi langkah awal untuk memulai suatu aksi baik.
  • Jika memungkinkan, rumah kita bisa menjadi langkah awal untuk memulai aksi, misalnya menjadikannya sebagai sanggar kecil atau perpustakaan mini agar anak-anak di sekitar bisa datang dan berkegiatan.
  • Anak-anak sangat suka dengan kegiatan yang melibatkan mereka secara langsung. Jika ada kegiatan storytelling atau read-a-loud, sisipkan kuis berhadiah yang bisa memacu anak untuk bersemangat.
  • Kanaditya selalu menyelipkan sesi craft atau ketrampilan dalam setiap kegiatannya. Selama ini, cara ini efektif untuk menarik minat anak untuk membaca dan berinteraksi dengan kita. Jika memungkinkan, sesuaikan craft dengan buku yang kita bacakan atau cerita yang kita dongengkan. 
  • Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, namun mereka memiliki satu kesamaan: mereka suka mendengarkan cerita. Entah mereka adalah anak-anak para refugee dari negara asing dan anak-anak di sekolah swasta di mancanegara hingga anak-anak di Kelas Pasar Kanaditya, semua memiliki kesamaan yang antusias mendengarkan cerita yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
  • Entah untuk event besar atau bahkan hanya kegiatan di Kelas Pasar, Kanaditya selalu membuat ‘activity breakdown’ sebagai semacam ‘pedoman’ agar kegiatan bisa berjalan lancar.

Literasi dan kegiatan social sebenarnya memiliki kaitan yang cukup erat di mana melalui kegiatan social biasanya kita bisa melakukan gerakan literasi secara lebih luas dan menyentuh langsung pada target utama kita. Kegiatan social tentunya memerlukan orang-orang yang mau terlibat di dalamnya secara sukarela dan tulus. Di sinilah umumnya tantangan sebuah komunitas social untuk menemukan sosok-sosok yang memiliki hati dan pemikiran yang sama. 

Selain kegiatan social di mana Kanaditya terjun langsung, Kanaditya juga menerbitkan majalah online gratis ‘Arkuma Kidz’ sebagai dedikasi Kanaditya kepada gerakan literasi dan anak-anak Indonesia. Arkuma Kidz merupakan hasil karya bersama para relawan Kanaditya. Artikel utama dalam Arkuma Kidz ini adalah kisah inspiratif dari tokoh yang Kanaditya wawancara. Artikel-artikel yang lain merupakan artikel pengetahuan hingga permainan seru. Majalah ini bisa diunduh secara gratis dari situs resmi Kanaditya DISINI. Arkuma Kidz juga menerima kiriman karya anak-anak usia Sekolah Dasar untuk dimuat dan mendapatkan merchandise seru dari Arkuma Kidz. Karya tersebut bisa berupa puisi, gambar dan cerita pendek 100 kata.

Jangan pernah berhenti belajar. Suatu ilmu pasti akan bermanfaat, sekecil apa pun ilmu itu” ~ Debz.

Debby Lukito Goeyardi - Penulis, Storyteller, Pegiat Literasi & Filantropis.

1 komentar:

  1. subhanallah luar biasa ,, banyak ilmu yang didapat dari THE POWER OF LITERACY & SOCIAL WORKS

    BalasHapus

"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"