Minggu, 10 Maret 2019

Mathematics Is My World


Sumber gambar : History in Pictures

"In short, the question what is Mathematics? May be answered difficult depending on when the question is answered, where it is answered, who answer it, and what is regarded as being included on matematics" S.Lunchins and Edith N Lunchins ( 1973 ).

Matematika sebagai ilmu pola pikir deduktif konsisten memiliki beragam sudut pandang yang berbeda, tergantung siapa yang mengatakan, dimana, dan nilai apa yang dilirik dalam matematika itu sendiri. Begitu pula istilah matematika yang diambil dari bahasa asing, seperti Inggris ( Mathematics ), Prancis ( Mathematique ), Rusia ( Matematiceski ), Itali ( Matematico ), dan Yunani ( Mathematica ).

Sadarkah kita, matematika secara tidak langsung bersemi dan mengalun dalam setiap proses pembelajaran. Disetiap dimensi kehidupan matematika seakan tidak mau berpisah dan terus hadir memberi warna dengan caranya yang sistematis dan logis. Dalam ilmu agama kita belajar berhitung melalui waktu shalat, jumlah hari dalam puasa Ramadhan, ru'yatul hilal yang sudah pasti menggunakan ilmu hitung dan seterusnya. Dalam ilmu sosial kewarganegaraan sedikitnya kita belajar jumlah agama di Indonesia, jumlah bulu pada sayap burung Garuda, jumlah sila pancasila, jumlah suku, bahasa dan budaya yang dimiliki Indonesia. Dalam ilmu sejarah kita akan menemui tanggal, tahun lahir pahlawan, jumlah pasukan yang gugur di medan perang. Matematika berdiri selain sebagai ilmu untuk dirinya sendiri juga sebagai pelayan kebutuhan ilmu lainnya (The Queen of Science). Tidak terkecuali ilmu  pengetahuan alam, olahraga, ekonomi juga deretan ilmu lainnya. Hal ini menunjukkan pembahasan matematika tidak terkungkung hanya dalam teori maupun rumus AlJabar, kalkulus, algoritma ataupun phytagoras semata.

Namun bagaimana dengan penerapan pembelajaran matematika itu sendiri? Sudahkah matematika menjadi pelajaran yang paling digemari semua peserta didik? Adakah cara yang menyenangkan dalam belajar matematika?.

Jika belajar lebih menyudut kepada pembelajar dalam proses menggali ilmu (intenal) maka pembelajaran lebih luas dimensinya (external and internal). Ada usaha dari pendidik, peserta didik dan lingkungan dalam mendukung proses tersampainya ilmu pengetahuan. Belajar menurut Fontana adalah terjadinya perubahan tingkah laku, pola pikir meski secara bertahap dari individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman.

Pembelajaran matematika pada umumnya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya. Selain peserta didik yang harus memiliki semangat belajar kuat dan sarana prasarana mendukung, semua pendidik juga sudah seharusnya memiliki cinta, jiwa yang tulus saat mengajar, potensi dalam mengarungi mata pelajaran yang diembannya baik dari metode, strategi mengajar, maupun tekniknya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sempurna. Dengan demikian cara mengajar berbanding lurus dengan buah pembelajaran.


Bagi yang tanggap saat pembelajaran matematika berlangsung cenderung senang dan gemar mengarungi dunia matematika akan tetapi bertolak belakang dengan mereka yang kurang memahami rumus, tidak menyukai hitung menghitung atau logika matematika.

Peran pendidik sebagai pembimbing dan penyalur knowledge tidak hanya berhenti dalam lingkup analisis kurikulum, menyiapkan Prota, Promes, silabus dan RPP. Pendidik yang memiliki point tambah out of the box dalam kreatifitas menciptakan suasana belajar yang kondusif, aktif dan menyenangkan akan memantik minat belajar peserta didik. Dewasa ini kita mengenal banyak model pembelajaran diantaranya PAIKEM ( Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan ) atau PAKEMI ( Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan  dan  Islami). Setidaknya dua hal tersebut mampu mensinergikan matematika menjadi mata pelajaran yang tidak lagi ditakuti tetapi menarik bahkan digandrungi semua peserta didik.

Pertanyaanya, sudahkah matematika mengguncang hati setiap peserta didik? Apakah kegiatan pembelajaran  matematika telah mencatat puncak keberhasilan sesuai apa yang diinginkan? Tentu menuai jawaban relatif. Oleh karenanya keterampilan dasar mengajar (generic theaching skills) sangat dibutuhkan demi memadu padankan fungsi kognitif, afektif dan psikomotor peserta didik. Sedikitnya ada delapan KDM (Keterampilan Dasar Mengajar) yang dianggap penting dalam menentukan keberhasilanya.

Delapan kriteria tersebut adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran, bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membimbing diskusi, mengelola kelas, menemukan dan mengatasi tingkah laku yang bermasalah, mengajar perorangan, kelompok kecil atau kelompok besar (Suherman dkk, 2003).

Melihat fungsi matematika adalah ilmu pasti yang begitu kompleks sebagai alat, pola pikir dan ilmu maka matematika sudah dapat diajarkan pada tingkat sekolah dasar bahkan usia pra sekolah. Pembelajaran dengan model PAIKEM atau PAKEMI pun dapat diterapkan saat pembelajaran matematika dasar seperti mengenalkan bilangan, penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

SDIK MAS (Sekolah Dasar Islam Kreatif Mutiara Anak Sholeh) Sukodono, Sidoarjo adalah salah satu dari sekolah yang menerapkan PAKEMI pada pelajaran matematika. Salah satu upaya dalam mewujudkan suasana belajar tanpa ada unsur paksaan bahkan memberikan nuansa candu bagi peserta didiknya adalah dengan Liga Matematika berupa Camp Operation demi mengasah kecepatan berhitung perkalian dan pembagian.

Menurut Dewi, salah satu guru SDIK MAS membeberkan, bahwa memberi tugas menghafal pembagian dan perkalian dari bilangan 1-9  akan sangat sulit diterima, dan membutuhkan waktu yang tidak singkat, terlebih bagi peserta didik yang merasa susah dalam menghafal. Meskipun sebelumnya Dewi dan rekan guru lainya telah mengajarkan berhitung menggunakan aritmatika jari. Camp Operation seakan dihaadirkan dan memberi sinyal untuk memacu semangat belajar berhitung dan mencintai matematika. Bila belajar perkalian dan pembagian sudah menarik belajar maka diharapkan Camp Operation bisa merangsang semangat berkelanjutan dalam mempelajari ilmu matematika pada tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Lembar kertas setebal 1 ml berukuran 70cm × 35cm  itu berisi 81 bilangan hasil dari pembagian maupun perkalian bilangan 1-9 dalam kotak persegi, sedangkan di bagian bawah berisi  dua baris kotak persegi panjang berbeda warna  dengan gambar × dan ÷ dikotak paling kiri dilanjutkan dengan angka 1-9, cara bermain pun tanpa menggunakan kalkulator atau menerapkan jari matika. Camp Operation dilengkapi dengan benda kecil, ringan yang mudah digeser atau dipindahkan yang disebut  "poin". Untuk poin bisa menggunakan kancing baju, kerikil atau benda kecil lainya namun tetap dengan dua warna yang berbeda hal ini dikarenakan pemain yang terdiri dari dua orang. Camp Operation bisa diberikan kepada setiap peserta didik mulai dari kelas 4-6 baik bermain sambil belajar dengan teman satu kelas maupun dengan kakak kelasnya. SDIK MAS menerapkan permainan tersebut selain sebagai alat pembelajaran juga sebagai ajang perlombaan antar peserta didik dan antar kelas. Pendidik dapat memandu dan mengkondisikan jalanya permainan dengan baik.

Alur bermain Camp Operation
  1. Siapkan dua pemain. Contoh : Aldo dan Karina.
  2. Siapkan lembar Camp Operation dan poin dengan dua variasi warna berbeda. Satu warna poin dalam jumlah minimal 20 buah, satu poin berfungsi sebagai pembagi pada baris pembagian atau pengali pada baris perkalian dan poin lainya sebagai pasukan. Contoh : Poin biru untuk Aldo dan poin putih untuk Karina.
  3. Memulai permainan dengan mengucap basmalah, bismillahirrahmanirrahim.
  4. Letakkan satu poin pada baris bawah dalam kotak ÷ dan satu poin yang berbeda warna dalam kotak ×.
  5. Ada pendidik atau teman yang memberi soal, pemain yang bisa menjawab soal dengan tepat dan cepat akan lebih dulu menjalankan poinya, namun lawan bermain pun bisa memberi soal pembuka. Contoh : Pendidik memberi soal pembuka, 9×8÷2 ?.
  6. Penjawab tepat dan cepat pertama akan mengawali menggerakkan poinya. Contoh : Aldo menjawab soal dari 9 × 8 ÷ 2 = 36. Aldo akan mengawali menggerakkan poinya namun tetap membuat soal dan menjawabnya sendiri demi melatih nalar berfikirnya. Adapun soal dimulai dari bilangan hasil jawaban soal pembuka yaitu 36. Contoh : 36 : 2 × 3 = 34. Maka Aldo meletakkan poin pembagi pada barisanya tepat pada bilangan 2 dan meletakkan poin pengali pada barisanya, tepat pada bilangan 3. Hasil jawaban, 34 mengharuskan Aldo meletakkan satu poin pasukan biru  pada kotak persegi bagian atas dengan memilih satu kotak berisi angka 34.
  7. Pemain kedua, Karina memulai menggerakkan poinya dengan membuat soal dari jawaban pemain utama, Aldo. Contoh : 34 × 2 ÷ 4 = 17. Setelah Karina menjawab, ia harus menggeser poin pengali menuju bilangan 2 dan poin pembagi pada bilangan 4. Sedangkan satu poin pasukan putih berada tepat pada  bilangan 17 pada salah satu kotak bagian atas. (Ingat : Setiap pergantian pemain, posisi poin pembagi dan pengali harus berubah tempat.)
  8. Permainan berlangsung serupa dengan durasi 30 detik bagi setiap pemain untuk membuat dan menjawab soal, lebih dari waktu yang ditentukan maka waktu hangus dan beralih pada lawan mainnya.
  9. Camp Operation dikatakan berakhir apabila salah satu pemain berhasil meletakkan 4 atau 5 pasukannya ( sesuai kesepakatan ) pada barisan horizontal maupun vertikal, namun boleh juga miring ke kanan maupun kekiri.
  10. Pemain yang dapat memenangkan Camp Operation  mengucapkan "Alhamdulillh,Allahu akbar, yes yes yes".
  11. Camp Operation berakhir dengan kalimat hamdalah, Alhamdulillah sembari menjabat tangan antar pemain demi mempererat persaudaraan.


Secara terperinci Camp Operation memiliki kelebihan diantaranya mengenalkan dan mengasah pola pikir peserta didik mengenai perkalian dan pembagian bilangan 1-9, membiasakan disiplin waktu dan mentaati aturan, mempererat persaudaraan antar teman sebaya maupun yang lebih tua dengan bermain Liga Matematika, membiasakan mengawali kegiatan dengan basmalah dan hamdalah sebagai penutupnya, juga tidak membiasakan berhitung menggunakan kalkulator maupun mesin hitung lainya.

Kendati demikian, PAKEMI yang diterapkan dengan Liga Matematika berupa Camp Operation  memiliki beberapa kekurangan. Kertas yang tidak terlalu tebal memungkinkan ringanya kertas tersebut untuk dibawa kemanapun dan dilipat maupun digulung sehingga lambat laun akan rusak atau basah bila terkena air karena sifat bahan yang mudah menyerap zat cair. Permainan yang bersifat diam dan digerakkan manusia tanpa adanya iringan nada atau musik pendukung permainan tersebut membuat pemain yang dominan belajar dengan audio akan sedikit merasa bosan, terlebih bila ditambah dengan kurangnya rasa cinta terhadap ilmu hitung.

Terlepas dari itu semua, model atau strategi apapun yang dipraktekkan oleh pendidik seyogyanya mampu menjadikan suasana pembelajaran bersifat student centered aproach. Karena hakikat pembelajaran sendiri bukan terpacu hanya untuk mengajar melainkan belajar bersama, pendidik lebih berperan sebagai fasilitator, dinamisator juga motivator. Matematika yang sering dianggap sulit oleh sebagian peserta didik kadang kala diakibatkan karena minimnya kreatifitas pendidik dalam menjadikan ilmu matematika sebagai ratu dan pelayan ilmu pengetahuan.

Penalaran logis, kritis, dan sistematis dapat disalurkan dengan menarik matematika dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya menyajikannya sebagai teori pun fakta atau rumus untuk dihafal belaka. Melainkan turut menghadirkan pembelajaran substantif melalui pencapaian penguasaan generalisasi, konsep dan prinsip matematika ( Suherman dkk, 2003 ).

Kunci dari kesuksesan matematika berada ditangan pendidik dimana pendekatan, strategi, metode, pendalaman materi dan kritis kreatif dalam menyikapi karakter peserta didik akan menyalakan dimensi matematika dalam berbagai bidang pelajaran yang tanpa disadari mengalir lembut dalam kehidupan. Pembelajaran pun berlangsung dengan terintegrasi, komprehensif dan kondusif tanpa merasa asing dengan matematika. Tidak salah bila nantinya yang muncul bukanlah " I hate mathematics" tetapi cinta pembelajar sejatinya yang membuat kalimat " Mathematics is my world " menghiasi semangatnya.

Sesuatu yang terasa asing seringkali membingungkan
Kenali lebih dalam untuk menuai cinta mengesankan
Kan kau buktikan, sejatinya ia hadir untuk menjadi sahabat kehidupan.


Nurhayati, 9 Maret 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"