Minggu, 10 Februari 2019

SEMANGAT MUDA



“Zaman baru membawa senjata baru” (Tan Malaka, 1926).

Ilmu pengetahuan diyakini mampu membawa kita kepada pencerahan. Intelektualitas kita seharusnya mampu mereduksi pertentangan yang dapat merugikan pergerakan kita menuju kesana. Dibutuhkan persatuan untuk membawa kita dari pintu gerbang kemerdekaan ke kemerdekaan sepenuhnya. Seharusnya ini menjadi kabar baik ketika teknologi informasi mengubah wajah dunia kita melalui Revolusi Industri 4.0. Adakah demikian?.


REVOLUSI INDUSTRI 4.0.

Dewasa ini tuntutan itu berasal dari hadirnya Revolusi Industri 4.0. Revolusi ini berbasis semakin pesatnya digitalisasi manufaktur. Terdapat 4 faktor yang menjadi pendorongnya, yaitu : (1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; (2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; (3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; (4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik (Lee dkk, 2013 dalam Yahya, 2018).

Masalahnya, No pict = hoax, is seeing believing?. Arus informasi yang tak terbendung ini dapat mempengaruhi perasaan, persepsi, dan opini. Untuk itu, semakin erat pengaruhnya terhadap kehidupan manusia, apalagi di era post-truth saat ini. Post-truth merupakan  kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal (Oxford Dictionary).

Dalam istilah lain, kita saat ini sedang berada dalam peradaban kamera yang sedang mentransformasi kehidupan kita secara besar-besaran. Kamera di saku setiap orang sedang membentuk masa depan. Peradaban kamera adalah sebuah peradaban di depan lensa yang secepat kilat memantulkan citra, muncul, tayang, dan beredar (Kasali, 2013).

Hampir tidak ada lagi yang asli, semua hasil dari framing. Framing adalah proses penyajian informasi untuk mempengaruhi persfektif penerima pesan. Era ini siap mengeksploitasi benteng terakhir kemanusiaan kita, yaitu kesadaran. Siapkah kita dengan hal itu?.


KEADAAN KITA.

Moral hazard pendidikan kita adalah ketika memicu seseorang untuk mendapatkan gelar akademis ketimbang mencari ilmu untuk memperoleh kompetensi. Hal ini melahirkan generasi yang kebingungan dalam menentukan passion. Selanjutnya akan bermetamorfosis menjadi generasi wacana. Cirinya adalah ketidaksingkronan antara pendidikan yang ditempuh dengan karir yang dijalani (Kasali, 2018).

Kebingungan-kebingungan yang akan berlanjut kepada ketidakstabilan emosi dan stimulasi-stimulasi sosial negatif lainnya, seperti: social disorganization (berkurangnya pranata-pranata masyarakat), strain (tekanan besar dalam masyarakat), differential association (salah pergaulan), labelling, dan male phenomenon.

Tantangan tersebut tidak hanya hadir dalam dunia nyata, justeru sebaliknya, dunia maya menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar bagi remaja. Celakanya, generasi yang lebih dulu atau sering disebut digital immigrants, seringkali gagal memahami fenomena ini. Sehingga remaja sebagai digital natives, semakin rentan terjebak pada kebingungan-kebingungannya dalam era internet of things dewasa ini.

Dalam bahasa yang lebih lugas, Inang Winarso (2016) memberikan gambaran mengenai generasi muda dalam kaitan perubahan sistem politik dan ekonomi global, dimana mereka dalam posisi tidak berdaya. Mereka hanya dihitung sebagai angka-angka statistik, lalu dibiarkan tumbuh bersama “pasar”. Mereka menjadi santapan lezat para pemilik modal melalui rayuan modernitas sebagai identitas anak gaul dan kekinian. Dalam kesehariannya, remaja sepenuhnya dikepung oleh ilusi. Mereka dicetak seragam oleh trend sejenis tiap tahun.

Secara terus-menerus, menurut penjelasan Inang Winarso selanjutnya, generasi ini dibuatkan trend setter dimanapun berada. Ketika android masih trendy, mungkin sekarang para konlomerat sedang merancang trend post android. Remaja digiring pada perjalanan suci yang patut disemangati dan didoakan agar benar-benar tercapai tujuannya, yakni ambisi untuk menikmati semua hal yang trendy. Ambisi tersebut dimaknai sebagai pemenuhan hasrat manusia.

Jika demikian, bonus demografi yang akan diperoleh oleh Bangsa Indonesia apakah masih bisa dimaknai sebagai suatu anugerah? Ataukah bonus demografi tersebut hanya serupa gerombolan domba dipadang rumput pasar bebas dan atau globalisasi yang bukan hanya akan melahirkan neo liberalisme, namun juga pada ujungnya akan melahirkan neo imprealisme?.

Paradoks tersebut membentuk suatu kenyataan bahwa tantangan globalisasi, yakni pengaruh negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap gaya hidup kita. Hal itu ditambah oleh semakin pudarnya nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal budaya bangsa. Kedua hal tersebut dipandang sebagai salah dua tantangan dan urgensi dari penguatan pendidikan karakter menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tantangan dan urgensi lainnya adalah : (1) harmonisasi potensi siswa yang belum optimal antara olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik), dan olah raga (kinestetik); (2) besarnya populasi siswa, guru dan sekolah yang tersebar diseluruh Indonesia; (3) belum optimalnya sinergi tanggungjawab terhadap pendidikan karakter anak antara sekolah, orangtua dan masyarakat; (4) terbatasnya pendampingan orang tua mengakibatkan krisis identitas dan disorientasi tujuan hidup anak; (5) keterbatasan sarana dan infrastruktur.

Sungguh suatu fakta yang sangat miris, di era internet of things masih menganggap teknologi informasi dan komunikasi sebagai suatu ancaman, hal tersebut dikarenakan rendahnya tingkat literasi dan kualitas pendidikan, sementara pengguan internet terus meningkat secara masif.

Sementara itu, siklus kompetisi dunia terus beredar. Setelah era red ocean, kemudian hadir era blue ocean. Namun perkembangan blue ocean ini menimbulkan disruption, sehingga mengembalikan kompetisi kembali ke era red ocean. Sepertihalnya pada fase industri yang merontokan fase agraris, dimulai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Penemuan tersebut mendorong revolusi industri yang berujung pada kolonialisme dan atau imprealisme. Begitu juga pada fase internet of things dewasa ini, dimulai dengan ditemukannya internet yang menyebabkan revolusi informasi yang memiliki ciri-ciri : sharing, real time dan on demand. Revolusi informasi yang diyakini belum mencapai puncaknya ini, entah akan melahirkan model imprealisme yang seperti apa. Satu hal yang pasti, model imprealisme yang dihasilkan oleh revolusi informasi ini akan lebih dahsyat dan mengerikan bagi kemanusiaan. Harus bagaimanakah kita?.


GERAK CERDAS GERAKAN KECERDASAN.

Dalam menghadapi badai tersebut, paling tidak, kita harus memiliki : (1) kemampuan berbahasa ( baik itu menulis, membaca, menyimak dan berbicara, maupun pemahaman akan teks, konteks dan konten) sebagai kemampuan mendasar dalam peradaban manusia; (2) penguasaan akan teknologi informasi; (3) kemampuan manajerial yang baik, yakni yang dapat menjadikan kita sebagai trasformator baik secara individual maupun organisasional.

Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan dan iklim intelektual dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sangatlah mendasar. Kita harus menyadari ini suatu usaha yang sulit. Untuk itu, konsistensi dan kesungguhan adalah kuncinya. Namun, untuk dapat mencapai kondisional minimum seperti yang telah disebut sebelumnya, merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Bagaimana mempertahankan konsistensi dan kesungguhan dalam kurun waktu yang panjang, bahkan bisa saja lintas generasi? Jawabannya adalah evaluasi secara periodik. Kenapa evaluasi periodik ini begitu signifikan? Karena hal tersebut menunjukan adanya tata kelola ilmu pengetahuan dan iklim intelektual. Jadi, dibalik evaluasi periodik itu ada Manajemen Pengetahuan. Dengan Manajemen Pengetahuan, membuat gerak cerdas gerakan kecerdasan. Seperti apa itu Manajemen Pengetahuan? Silahkan simak DISINI.

Aris Munandar – Matahari Pagi

2 komentar:

"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"