Selasa, 18 September 2018

Tahukah Kamu jika Mohammad Yamin Merupakan Salah Satu Perintis Puisi Modern Indonesia?



Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903 – meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang telah dihormati sebagai pahlawan nasional Indonesia. Selain pelopor Sumpah Pemuda sekaligus "pencipta imaji keindonesiaan" yang mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia, Ia juga merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia.

Mohammad Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya-karya pertamanya ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920. Karya-karya terawalnya masih terikat kepada bentuk-bentuk bahasa Melayu Klasik.

Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air; yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatera. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.

Himpunan Yamin yang kedua, Tumpah Darahku, muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah, karena pada waktu itulah Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya, Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa, muncul juga pada tahun yang sama.

Dalam puisinya, Yamin banyak menggunakan bentuk soneta yang dipinjamnya dari literatur Belanda. Walaupun Yamin melakukan banyak eksperimen bahasa dalam puisi-puisinya, ia masih lebih menepati norma-norma klasik Bahasa Melayu, berbanding dengan generasi-generasi penulis yang lebih muda. Ia juga menerbitkan banyak drama, esei, novel sejarah, dan puisi. Ia juga menterjemahkan karya-karya William Shakespeare (drama Julius Caesar) dan Rabindranath Tagore.

Berikut adalah salah satu karyanya :

BAHASA, BANGSA

          Was du erebt von deinen Vätern hast,
          Erwirb es um es zu besitzen.
                                                Goethe

Selagi kecil berusia muda,
Tidur si anak di pangkuan bunda.
Ibu bernyanyi, lagu dan dendang
Memuji si anak banyak sedang;
Berbuai sayang malam dan siang
Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri
Diapit keluarga kanan dan kiri
Besar budiman di Tanah Melayu
Berduka suka, sertakan rayu;
Perasaan serikat menjadi padu
Dalam bahasanya, permai merdu.

Menatap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya;
Bernafas kita pemanjangkan nyawa
Dalam bahasa sambungan jiwa
Di mana Sumatera, di situ bangsa,
Di mana perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana
Sejakkan kecil muda taruna
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa tiadakan pernah;
Ingat pemuda, Sumatera hilang
Tiada bahasa, bangsa pun malang.

Puisi diatas melukiskan perasaannya tentang “tiada bahasa, bangsa pun hilang”.

Sumber :
Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia oleh Ajip Rosidi, penerbit : Pustaka Jaya.
https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Yamin
Foto :google search images

Mari berdiskusi di Kelas Literasi.
Daftar disini

Kontak :
WA. 0815-4683-3404.
Email mataharipagimail@gmail.com

Bukan hanya membaca.
Tidak sekadar menulis.
Bersinar seperti Matahari Pagi : Bersinar Bersama dan Menyinari Kebersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"