Minggu, 05 April 2020

URGENSI PERDA LITERASI, Sebuah Pratinjau

April 05, 2020

Semilir adalah sebuah ajang mengorganisasikan gagasan dan mendiskusikannya. Gagasan tersebut ditulis dalam bentuk esai. Sebelum diterbitkan, gagasan esai tersebut akan didiskusikan terlebih dahulu. Untuk itu, pratinjau ini dimaksudkan sebagai bahan pemantik terhadap diskusi tersebut. Pratinjau ini merupakan tinjauan terhadap gagasan esai yang terdiri dari 2 (dua) bagian. Bagian pertama, memotret gagasan-gagasan dan poin menarik yang ada dalam esai menjadi sebuah ikhtisar. Bagian kedua, catatan-catatan editor terhadap hal-hal yang terkait dengan bagian pertama.

Pemantik diskusi ini sengaja disajikan dalam bentuk pratinjau, karena untuk menjaga originalitas karya penulis. Diskusi kali ini akan menyajikan judul “Urgensi Perda Literasi” dengan narasumber Eko Prasetyo, selaku penulisnya. Esai ini nanti akan bisa dibaca dalam buku SEMILIR: Literasi-Kita-Kini yang akan diterbitkan oleh Matahari Pagi.


Ikhtisar 

Secara garis besar, Eko dalam esainya mengemukakan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, fenomena beralihnya zaman dari era tipografis ke era kelisanan kedua yang memanfaatkan kemajuan teknologi inforrmasi. Zaman peralihan tersebut dikaitkan manusia dalam mencari eksistensinya.

Kedua, opini bahwa pencarian eksistensi seharusnya melalui literasi. Hal ini dianggap sebagai pilihan beradab dalam membangun budaya.

Ketiga, geliat literasi masyarakat belakangan ini, serta tampilnya Kemdikbud dan Perpusnas sebagai motor gerakan literasi.

Keempat, sinergi sebagai kunci mewujudkan masyarakat literat.

Kelima, birokrasi dan anggaran sebagai kendala dan penghambat bagi pemerintah dalam mengelaborasi geliat literasi di masyarakat.

Keenam, otonomi daerah sebagai peluang Pemda untuk memajukan literasi. 

Ketujuh, diajukan contoh Provinsi Lampung melalui Perda dan Kabupaten Way Kanan melalui Perbup.


Pratinjau 

Apakah literasi masih relevan di era digital?  

Apakah eksistensi bisa didapatkan tanpa kehadiraan substansi?

Bagaimana kinerja Kemdikbud dan Perpusnas dalam  memajukan literasi? Apa pencapaiannya dan apa yang masih harus dimaksimalkan?

Apakah antara GLK, GLS, dan GLM sudah sinergis dalam gerakan literasi nasional?

Kenapa birokrasi dan anggaran pemerintah menjadi kendala dan hambatan bagi gerakan literasi?

Apakah Perda Provinsi Lampung dan Perbup Way Kanan mengenai literasi sudah mengakomodir tercapainya substansi dari literasi dan sudah meninggalkan literasi yang bersifat seremonial?


Semilir: Literasi-Kita-Kini

Kamis, 26 Maret 2020

KELAHIRAN LITERASI, Sebuah Pratinjau

Maret 26, 2020

Semilir adalah sebuah ajang mengorganisasikan gagasan dan mendiskusikannya. Gagasan tersebut ditulis dalam bentuk esai. Sebelum diterbitkan, gagasan esai tersebut akan didiskusikan terlebih dahulu. Untuk itu, pratinjau ini dimaksudkan sebagai bahan pemantik terhadap diskusi tersebut. Pratinjau ini merupakan tinjauan terhadap gagasan esai yang terdiri dari 2 (dua) bagian. Bagian pertama, memotret gagasan-gagasan dan poin menarik yang ada dalam esai menjadi sebuah ikhtisar. Bagian kedua, catatan-catatan editor terhadap hal-hal yang terkait dengan bagian pertama.

Pemantik diskusi ini sengaja disajikan dalam bentuk pratinjau, karena untuk menjaga originalitas karya penulis. Diskusi kali ini akan menyajikan judul “Kelahiran Literasi” dengan narasumber Teguh Ari Prianto, selaku penulisnya. Esai ini nanti akan bisa dibaca dalam buku SEMILIR: Literasi-Kita-Kini yang akan diterbitkan oleh Matahari Pagi.


Ikhtisar 

Teguh Ari Prianto membuka esainya dengan ilustrasi ibu yang melahirkan seorang anak, disaksikan oleh neneknya. Ilustasi yang menggambarkan 3 generasi. Hal ini berkaitan erat dengan penegasan selanjutnya, yaitu: berliterasi itu bekerja untuk keabadian.

Kelahiran literasi, oleh Teguh, disandangkan kepada kelahiran karya literasi. Begitu pun dengan literasi dan keabadian, keduanya terwujud dalam karya literasi. Pada akhirnya, karya literasi merupakan tolok ukur keunggulan peradaban bangsa. Karenanya proses kelahirannya harus dipersiapkan.

Karya literasi lahir dari kematangan individu-individu, sebagai pijakan peradaban, sebagai jembatan ide-ide luhur kemanusiaan. Mempersiapkan proses kelahiran karya literasi berarti mempersiapkan kematangan individu-individu tersebut.

Yang menarik pada “Kelahiran Literasi,” Teguh menawarkan sebuah formula yang ia namakan sebagai Formula Mahardika. Formula ini diyakini dapat mengembalikan kesadaran cita kita sebagai bangsa. Kelahiran literasi akan memberikan optimisme kita, dengan melekatnya gen nilai-nilai luhur bangsa, sehingga dapat menjawab segala permasalahan yang sedang dihadapi.

Kelahiran literasi, senada seperti yang diungkapkan oleh Koichiro Matsuura (Direktur Umum UNESCO), merupakan kelahiran harapan masa depan yang lebih baik.


Pratinjau 

Apakah literasi sama dengan karya literasi, sehingga kelahiran karya literasi berarti juga kelahiran literasi? Ini akan menjadi poin menarik untuk kita diskusikan.

Apakah kematangan individu yang disebut sebagai persiapan kelahiran literasi itu sama dengan proses penguasaan literasi? Bagaimana juga kaitannya dengan keterampilan literasi, yaitu: berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif?

Bagaimana pola kerja Formula Mahardika dalam literasi sebagai peristiwa, praktik baik, dan praktik sosial?

Bagaimana cara Formula Mahardika memformulasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa kita yang bersumber dari literasi lisan dan tulis kedalam pendekatan literasi visual dan digital, sehingga konteksnya menjadi relevan kembali?


Semilir: Literasi-Kita-Kini

  

Senin, 23 Maret 2020

Bermainlah dalam Kenyataan Figital

Maret 23, 2020


Disrupsi teknologi tidak hanya merombak tatanan ekonomi dan bisnis saja, namun sudah merasuk hingga ruang-ruang keluarga, mengubah pola hubungan antara anak dengan orangtua

Siapa sangka teknologi memudahkan urusan sehari-hari?

Semua orang leluasa berkirim kabar dan informasi melalui WA maupun Line, melihat aktivitas teman bisa melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter. Bahkan kini berbebelanja menjadi lebih mudah, dengan menggunakan gadget belanja bisa langsung pesan–bayar –barang datang. Tak perlu repot keluar rumah untuk membeli kebutuhan bulanan, pakaian, sepatu, tas bahkan tanaman. Hanya perlu memesan online dan menunggu barang datang.

Banyak hal yang dulunya harus dilakukan tatap muka saat ini ada padanan virtualnya dan bagi generasi  Z dan Alpha, dunia bukanlah pemilihan maya atau nyata. Dunia adalah perpaduan ajaib keduanya, Karena generasi mereka telah tumbuh dan berkembang dalam kenyataan figital.

Kenyataan, kini, masih banyak orangtua yang berlomba untuk membatasi waktu anak bermain gadget, siapa yang paling berhasil menekan durasi main gadget anak, entah untuk nonton, main game atau lainnya, bisa dikatakan menjadi orangtua yang baik, karena telah mampu menghalau dampak negatif gadget.

Memang tidak ada yang salah dengan fenomena tersebut, orangtua manapun pasti ingin menghadirkan  sarana prasarana, serta lingkungan terbaik untuk tumbuh kembang anaknya. Namun seperti yang semua orangtua tahu, perkembangan teknologi hadir dengan dua sisi; positif dan negatif. Maka akan tidak adil jika hanya menggaris bawahi dampak negafinya saja.

Alih-alih mempermasalahkan dampak buruk dunia digital, keluarga kami sepakat menjadikan teknologi sebagai sarana utama dalam media pembelajaran Daniah, mengapa demikian? Karena sejak Daniah dalam kandungan sampai saat ini (7 tahun), Daniah tumbuh dengan layar yang dihidupkan sepanjang hari, dari mulai layar TV, laptop, handphone dll. Dengan kata lain teknologi bukanlah dunia yang terpisah, melainkan terintegerasi dalam kesehariannya. Sehingga mereka tidak lagi melihat garis pembatas antara fisik dan digital.

Karena dunia mereka adalah dunia figital, maka konsep pembelajaran sebaiknya dirancang se-asyik mungkin, sehingga pembelajaran dapat diterima dengan proses menyenangkan dan langsung dapat diaplikasikan dalam kesehariannya. Seperti project kali ini diambil dari game yang sedang Daniah mainkan, nama game-nya “Your World”. Lalu apa yang Daniah lakukan?

Pertama Daniah akan memainkan game, tujuannya untuk terus menambah karakter dalam game tersebut, yang nantinya akan menjadi bahan untuk project-nya.
Lalu apa project-nya? Dari karakter-karakter yang dihasilkan, Daniah akan menuliskan koleksinya dengan menggunakan penomoran. Selanjutnya Daniah akan menggambar karakter dalam game tersebut di buku, lengkap dengan nama karakternya. Contoh: seperti pada gambar di atas, Daniah menggambar tokoh Hamster bernama Garret Wheeler, selain menggambar dan menirukan tulisannya, Daniah juga akan membuat figur Garret Wheeler dari bahan doh.

Pembelajaran berbasis project tersebut dilakukan untuk menjaga antusiasme, rasa senang, dan tertantang. Terlebih lagi dengan menggunakan game atau permainan, hal tersebut dapat mematik kecerdasan menjadi lebih optimal.

Jika ditelaah lebih lanjut,  project “Your World” yang Daniah kerjakan, mengandung berbagai muatan, diantaranya; muatan verbal/lisan, imajinasi, visual/gambar, fisik serta teknologi dan animasi.

Pertama Daniah akan menceritakan secara detail mengenai tokohnya tersebut, entah mengenai keunggulan, warna, bentuk. Nah, ketika Daniah bercerita, di sana ada kaitan antara muatan verbal/lisan dengan visual/spasial  karena saat memperkenalkan tokoh, secara tidak langsung Daniah belajar membangun alur, di dalamnya ada upaya menyusun kalimat dan memilih diksi supaya pendengarnya menjadi paham, klimaks dibangun ketika dia berhasil menggarisbawahi hal-hal menarik yang ingin diceritakannya, sedangkan penutup lahir ketika Daniah mendefinisikan inti atau pesan yang ingin disampaikan menjadi kesimpulan.

Kedua muatan imajinasi, merujuk kepada daya pikir untuk membayangkan proses, dia akan membayangkan hasil akhir karyanya, kemudian merunut lagi ke awal, mengenai apa saja bahan yang harus digunakan serta tahapan-tahapan membuatnya, sehingga tercipta karya seperti pada gambar di atas. Proses tersebut mengajarkan Daniah mengenai planning dan organizing. Selain itu ketika Daniah melihat wujud karyanya, Ia akan mengevaluasi (controlling) dengan cara membandingkan antara bentuk yang ada di dalam imajinasi dengan wujud asli yang dibuat. Sehingga Daniah dapat mengukur sejauh mana kesenjagannya, antara bentuk dalam imajinasi (planning) dan hasil akhir (actuating). Kesuluruhan proses di atas adalah dasar manajerial untuk mengasah leadership-nya.

Selanjutnya muatan fisik/kinestetik diasah melalui proses pembuatan figur, Daniah melatih koordinasi gerakan tangannya, mengatur daya tekan hingga kecepatan dalam membentuk doh. Bukan itu saja, belajar dalam hal ini adalah proses bermain yang seru, dengan bermain yang mau dicapai adalah melatih anak berekspresi, sehingga munculah kegembiraan dan relaksasi dalam belajar. Proses ini penting untuk pengalaman sosial yang dalam kenyataan generasi ini adalah sosial figital.

Dengan menggunakan bantuan teknologi dan animasi pembelajaran Daniah menjadi lebih menyenangkan, game tidak hanya sebatas permainan belaka, namun juga menjadi bahan Daniah mempelajari banyak hal lainnya. Selain itu juga membantu Daniah mengkonkretkan imajinasi sehingga memiliki tumpuan realitasnya.

Inilah tantangan orangtua maupun pendidik dalam memperbaharui proses pembelajaran, semua dituntut untuk melakukan transformasi dalam metodologi belajar-mengajar agar generasi  berikutnya menguasai hybrid skill dan nantinya dapat menangani hybrid job ketika masuk ke dunia kerja. Karena dunia berubah super cepat, cara lama sudah usang, sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah skill-skill baru dan cara baru. Itulah pernyataan yang disampaikan Jokowi saat menghadiri pengukuhan Guru Besar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Sebagai penutup, kiranya pertanyaan ini patut untuk dijawab.


Persoalan terbesar adalah ditengah arus perubahan yang begitu deras, dengan disrupsi yang begitu cepat dan radikal, bagaimana orangtua bisa menyesuaikan pola asuh? Bagaimana orangtua dapat mempersiapkan generasi Z dan Alpha tanpa terjebak dalam keberhasilan pola asuh masa silam? Bagaimana cara melakukannya?


Hazar Widiya Sarah|Co-Founder Matahari Pagi

Minggu, 08 September 2019

Gotong-Royong Melawan Post-truth

September 08, 2019
Image by Amber Avalona from Pixabay


Era post-truth adalah konsekuensi kondisi zaman yang dihasilkan oleh teknologi dengan sifatnya membakar emosi, menutupi fakta, dan memiliki kecepatan penyebaran yang cepat dengan  tiga  dogma yaitu  rekam, unggah, bagikan. Hoax adalah salah satu produk post-truth yang paling nampak. Gejala ini cepat atau lambat akan menciptakan ranjau perpecahan di Indonesia .

Post-truth  adalah bentuk lain daripada strategi konflik halus yang diciptakan oleh jejaring elit di era informasi  ini, karena sesungguhnya informasi tercipta bukan dari ruang hampa dan tanpa kepentingan apapun. Kata Noam Chomsky, jadi hal ini  harus kita pahami cara penanganan dalam konteks nasional dengan, salah satunya   lewat kesadaran kita terhadap ide dasar republik ini, yaitu gotong royong.


Sekali lagi tentang gotong-royong

Harus kita akui Indonesia ada karena gotong-royong. Bangsa ini dibangun dan dipertahankan lewat gotong-royong, dari tahap fisik melalui rangkaian revolusi berdarah sampai kepada tahap batiniah melalui revolusi pemikiran, yang   menciptakan solidaritas sebagai satu entitas kebangsaan di atas segala perbedaan.

Maka tidak salah, 74 tahun silam, dihadapan sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, Sukarno berujar dalam pidatonya "jikalau saya peras yang lima (Pancasila) menjadi tiga dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen yaitu perkataan ‘gotong-royong’. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong !”

“Alangkah hebatnya! Negara gotong royong!” (Tepuk tangan riuh rendah).

Semangat gotong-royong yang menjadi philosphie grondslag-lah  yang menjadi ide dasar pendirian konsep republik ini menjadi negara kesatuan, bukan federasi atau pun serikat, dan dari semangat ini juga menjadi prakondisi pertama kesepakatan kita untuk tetap bersatu  hingga hari ini dalam bingkai NKRI

Perlu kita mengerti jika semangat gotong-royong yang kita sepakati sampai hari ini bukanlah suatu konsep solidaritas sosial yang bersifat oligarkis, yang memakai kepentingan bersama sebagai alasan untuk pencapaian kepentingan sendiri atau kelompok kita.

Karena semangat ini hadir bukan melalui rekayasa sosial dari atas ke bawah, namun lahir dari bumi manusianya Indonesia, yang ditempa oleh kehidupan  agrikultur dan maritim, yang membuat mereka harus berkerjasama mengembangkan jejaring solidaritas untuk meningkatkan hajat hidup bersama.

Soekarno menegaskan: gotong-royong kita adalah amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagian semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama, itulah gotong-royong. Jadi amal adalah kunci daripada semangat gotong-royong kita .

Kuat atau lemahnya republik ini bukan hanya bergantung pada sistem militer, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya, tapi pada kesadaran dan pengamalan kita untuk tetap bergotong-royong. Inilah sebenar-benarnya semangat kemerdekaan,  sebenar-benarnya semangat proklamasi, dan sebenar-benarnya semangat pembebasan.

Hanya lewat gotong-royonglah bukti nyata kecintaan kita yang akbar pada tanah yang gemah ripah loh jinawi ini .


Gotong royong lewat jejaring kesadaran logis dan humanis

Peran gotong-royong dalam melawan era pasca kebenaran hanya bisa dilakukan lewat para generasi muda. Sebagai kelompok demografi terbesar pemakai teknologi, tempat dimana segala hal yang berkaitan dengan post-truth lahir

Peran generasi muda milinieal sebagai generasi terpelajar harus menjadi garda depan melembagakan gotong-royong yang berkesadaran logis dan humanis.

Kesadaran logis dan humanis  sangat penting dalam pengamalan gotong-royong  untuk melawan gejala negatif pasca kebenaran. Karena arus informasi yang masuk, disadari atau tidak, merekayasa masyarakat kita secara perlahan menjadi lebih dangkal dalam berpikir. Ketika  sudah berpikir dangkal maka kesadaran yang humanis pun  lenyap.

Kesadaran logis dan humanis adalah dasar daripada kesadaran pancasialias. Jika logis memberikan kita cara berpikir yang sistematis, maka humanis memberikan kita cara berpikir mana yang ada manfaatnya mana yang ada mudharatnya bagi sesama kita.

Maka kita sebagai generasi muda harus ikut ambil peran mendidik diri sendiri dan rekan kita untuk ikut berjuang melawan penjajah baru, bernama era pasca kebenaran .

Republik yang hancur jelas bukan hal yang kita inginkan di masa depan. Kita ingin mewarisi Indonesia yang kekal, karena inilah warisan yang paling berharga untuk generasi mendatang. Penentu terhadap persatuan Indonesia kedepan adalah kita yang hari ini sibuk berperang di media cyber atas nama kebenaran semu, membunuh sesama anak bangsa sendiri dalam perang opini, yang berlanjut hingga fisik tanpa pernah sadar kita sudah terjebak pada permaianan baru devide et impera era modern.


Mansurni Abadi. Divisi fundraising World Literacy Foundation, Singapore/ pengerak PBI *.


Sabtu, 10 Agustus 2019

Obsesi Soekarno dan Masa Depan Kita

Agustus 10, 2019

foto: fimela.com

Dalam menyikapi situasi bangsa saat ini yang semakin hari semakin  jauh dari cita-cita awalnya. Sudah  seharusnya  kita mulai kembali mengenang obsesi (rasa yang menghantui pikiran) para pendiri bangsa, khususnya presiden pertama republik ini, Soekarno. Dalam pidato pertama pasca Indonesia merdeka, berjudul: sekali merdeka tetap merdeka, yang termuat di buku dibawah bendera revolusi, Soekarno menyatakan pembentukan Indonesia adalah realitas bagi kemanusiaan yang di perjuangkan habis-habisan oleh semangat yang menyala-nyala terhadap kemerdekaan. Karena komitmen terhadap kemanusiaan itulah, Soekarno adalah satu-satunya pemimpin Indonesia yang berani menentang secara terang- terangan praktik-praktik penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Karena hal inilah, dalam masa pemerintahan Soekarno tidak pernah sedikitpun memedulikan ide pembangunan neoliberal kapitalistik, tapi sebaliknya dia mengutamakan kebijakan pembangunan segala sektor yang berdikari.

Pada masanya, Soekarno tidak bergeming dengan rayuan ideologi pembangunan yang di lancarkan oleh presiden negara adikuasa, Harry S Truman, melalui doktrin Truman  atau pun rencana pinjaman pembangunan untuk dunia ketiga lewat Marshall Plan. Soekarno tampaknya sadar bahwa pada tahun 1945 yang terbentuk baru negara Indonesia, sedang bangsa Indonesia masih dalam proses mencari bentuk identitasnya untuk tetap bertahan hingga akhir zaman.

Indonesia pada dasarnya adalah negara yang disusun diatas banyak nasionalisme berbasis etnis. Jika bukan berkat Pancasila sebagai jalan hidup yang disepakati hingga hari ini, nasionalisme berbasis etnik akan menjadikan Indonesia tinggal nama. Tentunya dengan bangsa yang masih dalam proses ini, ideologi pembangunan yang merupakan kepanjangan tangan dari neo-imprealisme dan neo-kolonialisme hanya akan menjadi bom waktu bagi perpecahan indonesia. Karena itulah istilah-istilah sakti dalam periode pemerintahan Soekarno bukanlah konsep-konsep dari ideologi "pembangunan", seumpamanya economic growth, GNP  per kapita, investasi asing, pinjaman luar negeri, SDGs, industrialisasi, deregulisasi, konglomerasi, dan sebangsanya, yang sarat membuka ruang bagi penindasan manusia atas manusia secara masif, terstruktur, dan sistematis.

Soekarno adalah anak zamannya. Pemikirannya tidak terlepas dari kondisi zamannya, namun tetap visioner bagi bangsa Indonesia hingga hari ini. Bagi Soekarno, formula yang tepat bagi Indonesia mencapai cita-citanya adalah Pancasila yang menjunjung tinggi sosialisme ala Indonesia, gotong-royong, kekeluargaan, berdiri di atas kaki sendiri, dan seterusnya.

Melihat Indonesia hari ini, kita semakin jauh dari formula yang di cetuskan oleh Bung Besar. Maka tidak salah jika  kita mungkin merdeka hanya secara seremonial, namun tetap terjajah secara sistem. Namun kita sebagai generasi muda terus-menerus memaklumi hal tersebut sebagai sebuah kewajaran dan menyusun alasan atas nama apapun. Hingga wajar akhirnya muncul sebuah statement "Indonesia for sale".


Mansurni Abadi. (Co-founder Ekstraparlemen Institute / World Literacy Foundation Singapura).

Literasi sebagai Solusi Hoax, Apakah Jawaban atau Wacana?

Agustus 10, 2019

Oleh:
Mansurni Abadi
(World Literacy Foundation Singapura)


foto: pixabay.com


Geylang - Hoax sebagai akar fenomena sosial yang menghancurkan persatuan masyarakat    dan literasi sebagai solusi dasar untuk mengatasinya adalah diskursus yang selalu di sandingkan dalam setiap kali diskusi, baik di level atas maupun di level bawah. Lambat laun diskursus ini pun membuat  pemikiran seragam dari atas ke bawah, maupun sebaliknya, jika hoax yang menjadi masalah harus di selesaikan lewat literasi sebagai primus interperas (yang paling utama) disamping solusi yang bersifat birokratis sebagai the second (yang kedua).

Namun sayangnya literasi kita masih terjebak pada masalah di dua ranah, yang pertama ranah konseptual dan kedua ranah praktikal. Dari ranah konseptual, konsep literasi masih didefinisikan dan kemudian dimaknai hanya sebatas persoalan bisa baca lalu selesai. Akibatnya  kemudian di ranah praktiknya, literasi menjadi hanya soal meningkatkan berapa jumlah buku yang di baca oleh individu dalam sebulan. Populisme  gerakan, formalitas program, dan ketidakterhubungan antara visi dan misi kedepannya adalah 3 fenomena yang sering saya jumpai  terjadi akibat kesalahan diranah konseptual dan praktik ini. Akibatnya, jawaban literasi sebagai solusi hoax akhirnya gugur dengan sendirinya, karena literasi yang ada saat ini tidak berdaya sebagai kekuatan penyeimbang hoax yang masif, sistematis, dan manipulatif.

Tentunya kemudian muncul pertanyaan kritis literasi yang seperti apa yang harusnya di bentuk? Strategi yang seperti apa yang harusnya di laksanakan? Dan logika gerakan seperti apa yang harus di terapkan ?.


Membongkar Konsep Usang Literasi

Benak publik menanggap literasi sebagai solusi untuk menghadapi hoax karena literasi berurusan dengan perbaikan akal, hoax di pandang sebagai bentuk ketidakwarasan akal dalam hal menggunakan medium-medium informasi. Namun literasi juga perlu dikaji, apakah literasi saat ini sudah efektif memperbaiki akal atau justru menumpulkan akal?.

Literasi pada dasarnya bukan soal kuantitas kemampuan membaca buku, banyaknya menulis, atau banyaknya informasi yang kita tumpuk di kepala yang selama ini kita praktikan. Jika literasi hanya soal bacaan fisik, tentunya akan tertatih dalam melawan hoax yang masif, sistematis, dan manipulatif.

Sudah selayaknya kita harus memahami literasi sebagai sebuah proses berkelanjutan untuk: (1) menajamkan pikiran, baik secara kolektif maupun individu; (2) memperbaiki sikap dan tindakan; dan (3) menyeimbangkan kesadaran individual dan kesadaran sosial lewat berbagai medium fisiologis, baik kinestetik, visual, audiotory. Dengan indikatornya yang harus mentransformasi individu dan masyarakat di ranah etos (karakter), mitos dari berpikir irrasional menjadi rasional, dan logos dari keseragaman menjadi keberagaman, yang saling membangun dengan berpedoman pada wawasan nasional suatu bangsa yang mecakup: visi, misi, dan tujuan suatu bangsa.

Produk literasi dengan konsep ini secara konseptual  bukan lagi hanya sebatas membaca buku dan membeo pada pemikiran tertentu, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri, dan secara praktikal memproduksi pemahaman baru  dan saling keterkaitan antar manusia untuk mencerdaskan sesama anak bangsa. Mempertajam, menyeimbangkan, dan memperbaiki laku tindakan, inilah sebenar-benarnya konsep literasi yang akan berdampak pada peningkatan nalar akal sehat.

Prasyarat bagi masyarakat yang berakal sehat ada tiga hal progresif, humanis, dan berkesadaran. Kalau kita sambungkan antara konsep literasi yang saya tulis di atas dengan prasyarat masyarakat berakal sehat maka ketiga konsep literasi saling terhubung dengan salah satu pra-syarat masyarakat berakal sehat, karena masyarakat yang progresif akan timbul ketika penajaman pola pikir dilakukan, yang humanis akan timbul dari upaya perbaikan sikap dan tindakan, dan yang berkesadaran akan timbul  sebagai akibat dari keseimbangan kesadaran. Ranah praktik untuk mewujudkannya, salah satunya adalah dengan memetakan gaya literasi di masing-masing wilayah, mengembangkan iklim dialog dan laku tindakan yang  inspiratif, menyediakan medium counter culture  (melawan budaya yang menindas), membangun basis creative capital, serta mereproduksi dan membuat jejaring antar intelektual organik.

Jika 3 prasyarat konseptual dan ke lima praktik itu terpenuhi maka literasi bisa menjadi penyeimbang hoax yang memiliki skema yang masif, sistematis, dan manipulatif. Selanjutnya dari hal yang saya tulis diatas, literasi perlahan akan dapat menjawab 7 dosa sosial yang dilahirkan hoax, yang saya ambil dari ide Gandhi, yaitu: politik tanpa prinsip, yang kita lihat hari ini dalam bentuk politik demagog (tidak mendidik); kekayaan tanpa kerja keras (dalam bentuk mafia hoax); perniagaan tanpa moralitas (dalam bentuk  kapitalisasi hoax); kesenangan tanpa nurani (dalam bentuk immoralitas menggunakan medium informasi); sains tanpa humanitas (dalam bentuk penciptaan teknologi yang menyingkirkan manusia dan alam secara perlahan); dan peribadatan tanpa refleksi pengorbanan  (dalam bentuk menggunakan agama menebarkan hoax) 

Ketika litelarasi sudah sampai pada titik menjawab 7 dosa sosial penyebab hoax tersebut, maka literasi bisa menjadi jawaban untuk mengatasi hoax.

Senin, 29 Juli 2019

MERAWAT INGATAN : DARI KABUYUTAN KE TBM

Juli 29, 2019



“The struggle of man against power is the struggle of memory against of forgetting”
Milan Kundera, 1996:4.


MERAWAT INGATAN DAN KABUYUTAN.

Kekuatan apa yang sedang mengancam kita? Ancaman dunia dewasa ini adalah eksploitasi kesadaran kemanusiaan manusia secara masif. Disana ada yang disebut post truth dan framing-nya, ada moral hazard pendidikan kita, ada tirani kapitalis yang mengendarai globalisasi, dan lain-lainnya, dan sebagainya.  Sebuah kekuatan yang dimaksud secara khusus oleh Milan Kundera sebagai kekuatan yang korup dan menindas.

Dalam bukunya,  John Farndon (2011:364) menempatkan menulis sebagai gagasan kedua terbesar yang mengubah dunia.  Tulisan menjadi penanda kita meninggalkan era prasejarah menuju zaman sejarah. Berbeda dengan lisan, tulisan memungkinkan informasi dapat diterima oleh siapapun yang membacanya, tanpa harus bertatap muka. Selain itu, tulisan dapat menyimpan informasi lebih lama dan menjaganya persis seperti saat pertama kali disampaikan. Tulisan merawat ingatan.

Dalam Bab “Buku dari Kabuyutan” di buku “Googling Gutenberg" karya Atep Kurnia (2019), menyebutkan keberadaan Kabuyutan sebagai tempat penulisan, penyalinan, penyimpanan naskah. Atep memberi padanan Kabuyutan dengan Skriptorium (jamak: skriptoria; wikipedia) adalah tempat penyalinan naskah-naskah manuskrip. Pada awalnya merupakan nama ruangan di dalam biara untuk menyalin manuskrip oleh penulis monastik. Monastik (akar katanya monos = sendiri; wikipedia) sendiri merupakan praktik keagamaan berupa tindakan menafikan segala hasrat keduniawian dengan maksud membangkitkan hidup semata-mata bagi kegiatan kerohanian.

Kembali ke Kabuyutan, masih menurut Atep, bahwa keberadaan Kabuyutan sebagai media interaksi antara budaya Sunda dengan budaya luar, sehingga terbentuk suatu pengalaman baru. Kabuyutan memegang peranan penting dalam mentransformasikan tradisi lisan menjadi tradisi literasi. Transisi tersebut terlihat dari cara pembacaan yang masih dengan cara suara lantang (reading aloud), belum sampai ke cara membaca sunyi (silent reading).

Namun, tradisi literasi pada saat itu masih terbatas pada kalangan tertentu saja, masih bersifat elitis. Selain itu, pergeseran fungsi kabuyutan dengan menempatkan naskahnya sebagai artefak dan untuk membukanya diperlukan ritual khusus. Pergeseran fungsi ini, selain terjadi di Kabuyutan Ciburuy, ditemukan pula di Dusun Prawira, Kabupaten Lombok Utara.
Menyambut baik gagasan untuk merevitalisasi fungsi Kabuyutan, yakni dengan menumbuhkembangkan kembali literasi baca-tulis. Tentu saja kali ini harus menghilangkan sifat elitisnya, yakni bisa di akses oleh masyarakat, maka Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sejatinya dapat mengemban fungsi ini.


LITERASI BACA-TULIS DAN TBM.

TBM dalam perannya mengembangkan budaya baca masyarakat, mengemban tanggung jawab untuk menciptakan masyarakat gemar belajar yang berdampak pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Sejalan dengan apa yang di kampanyekan oleh Kementrian pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN), yakni mencakup 6 literasi dasar, terutama literasi baca-tulis.
Dalam buku elektronik Materi Pendukung Literasi Baca Tulis yang diterbitkan Kemdikbud, literasi baca-tulis didefinisikan sebagai engetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.  Dalam akivitas literasi baca-tulis terjadi yang dinamakan knowledge sharing / knowledge transfer. Aktivitas ini mensyaratkan perlakuan ilmiah terhadap ilmu pengetahuan sehingga ilmu pengetahuan tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan (what to be), lebih jauhnya dapat menggerakan atau mentransformasikan seseorang (baca : individu) dan atau organisasi menjadi lebih efektif, efisien, fleksibel dan adaptif (how to be) terhadap perubahan yang serba cepat.

Pemahaman ini menjadi penting bagi pengelola TBM dengan layanan pustaka sebagai layanan utamanya. Baik itu hanya berupa : layanan ruang baca, sirkulasi bahan pustaka, atau bahkan layanan kelompok pembaca. Mengetahui jenjang membaca pemustaka diperlukan supaya pengelola TBM dapat membantu pemustaka memilih bacaan yang tepat. Ada 2 cara pokok dalam mengidentifikasi jenjang membaca, yaitu : respons lisan dengan menceritakan kembali dan respons tertulis. Respons tertulis, secara umum membahas : alur (awal-tengah-akhir) dan narasi cerita, menjelaskan latar, membuat karakter yang kuat, membuat akhir yang berkesan, bermain dengan sudut pandang. Respons terhadap bacaan oleh pembaca merupakan langkah awal menuju ke menulis. Sehingga literasi baca-tulis merupakan satu kesatuan proses. Respons ini sebagai reproduksi pengetahuan secara sederhana, berdasarkan pengalaman membaca.

Khusus sebagai bekal di era post-truth dan menghadapi hantu framing, membaca kritis dapat memberikan keterampilan yang kita butuhkan (Dewayani, 2017), yaitu : menjadi pengguna yang bijak (mengakses konten yang aman dan bermanfaat), menjadi pengguna kreatif (berbasis pada karya dan memiliki kepedulian sosial), menjadi pengguna kritis (selalu memastikan sumber yang kredibel), menjadi pengguna produktif (tidak hanya sebagai pengakses informasi tetapi juga penghasil informasi).

Literasi baca-tulis yang dilakukan memenuhi prinsip: holistik (utuh dan menyeluruh), terintergrasi (terpadu), berkelanjutan (sustain), kontekstual, serta responsif terhadap kearifan lokal akan menumbuhkan empati kita. Empati sebagai inti dari kemanusiaan adalah senjata untuk melawan keserakahan. Empati akan membawa kita kepada keadilan sosial. Keserakahan akan menjerumuskan kekuatan menjadi korup dan menindas.


Aris Munandar – Founder Matahari Pagi
Tulisan ini dimuat juga di laman www.ftbm.go.id dan www.pamatriliterasi.com 

"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"