Sabtu, 10 Agustus 2019

Obsesi Soekarno dan Masa Depan Kita

Agustus 10, 2019

foto: fimela.com

Dalam menyikapi situasi bangsa saat ini yang semakin hari semakin  jauh dari cita-cita awalnya. Sudah  seharusnya  kita mulai kembali mengenang obsesi (rasa yang menghantui pikiran) para pendiri bangsa, khususnya presiden pertama republik ini, Soekarno. Dalam pidato pertama pasca Indonesia merdeka, berjudul: sekali merdeka tetap merdeka, yang termuat di buku dibawah bendera revolusi, Soekarno menyatakan pembentukan Indonesia adalah realitas bagi kemanusiaan yang di perjuangkan habis-habisan oleh semangat yang menyala-nyala terhadap kemerdekaan. Karena komitmen terhadap kemanusiaan itulah, Soekarno adalah satu-satunya pemimpin Indonesia yang berani menentang secara terang- terangan praktik-praktik penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Karena hal inilah, dalam masa pemerintahan Soekarno tidak pernah sedikitpun memedulikan ide pembangunan neoliberal kapitalistik, tapi sebaliknya dia mengutamakan kebijakan pembangunan segala sektor yang berdikari.

Pada masanya, Soekarno tidak bergeming dengan rayuan ideologi pembangunan yang di lancarkan oleh presiden negara adikuasa, Harry S Truman, melalui doktrin Truman  atau pun rencana pinjaman pembangunan untuk dunia ketiga lewat Marshall Plan. Soekarno tampaknya sadar bahwa pada tahun 1945 yang terbentuk baru negara Indonesia, sedang bangsa Indonesia masih dalam proses mencari bentuk identitasnya untuk tetap bertahan hingga akhir zaman.

Indonesia pada dasarnya adalah negara yang disusun diatas banyak nasionalisme berbasis etnis. Jika bukan berkat Pancasila sebagai jalan hidup yang disepakati hingga hari ini, nasionalisme berbasis etnik akan menjadikan Indonesia tinggal nama. Tentunya dengan bangsa yang masih dalam proses ini, ideologi pembangunan yang merupakan kepanjangan tangan dari neo-imprealisme dan neo-kolonialisme hanya akan menjadi bom waktu bagi perpecahan indonesia. Karena itulah istilah-istilah sakti dalam periode pemerintahan Soekarno bukanlah konsep-konsep dari ideologi "pembangunan", seumpamanya economic growth, GNP  per kapita, investasi asing, pinjaman luar negeri, SDGs, industrialisasi, deregulisasi, konglomerasi, dan sebangsanya, yang sarat membuka ruang bagi penindasan manusia atas manusia secara masif, terstruktur, dan sistematis.

Soekarno adalah anak zamannya. Pemikirannya tidak terlepas dari kondisi zamannya, namun tetap visioner bagi bangsa Indonesia hingga hari ini. Bagi Soekarno, formula yang tepat bagi Indonesia mencapai cita-citanya adalah Pancasila yang menjunjung tinggi sosialisme ala Indonesia, gotong-royong, kekeluargaan, berdiri di atas kaki sendiri, dan seterusnya.

Melihat Indonesia hari ini, kita semakin jauh dari formula yang di cetuskan oleh Bung Besar. Maka tidak salah jika  kita mungkin merdeka hanya secara seremonial, namun tetap terjajah secara sistem. Namun kita sebagai generasi muda terus-menerus memaklumi hal tersebut sebagai sebuah kewajaran dan menyusun alasan atas nama apapun. Hingga wajar akhirnya muncul sebuah statement "Indonesia for sale".


Mansurni Abadi. (Co-founder Ekstraparlemen Institute / World Literacy Foundation Singapura).

Literasi sebagai Solusi Hoax, Apakah Jawaban atau Wacana?

Agustus 10, 2019

Oleh:
Mansurni Abadi
(World Literacy Foundation Singapura)


foto: pixabay.com


Geylang - Hoax sebagai akar fenomena sosial yang menghancurkan persatuan masyarakat    dan literasi sebagai solusi dasar untuk mengatasinya adalah diskursus yang selalu di sandingkan dalam setiap kali diskusi, baik di level atas maupun di level bawah. Lambat laun diskursus ini pun membuat  pemikiran seragam dari atas ke bawah, maupun sebaliknya, jika hoax yang menjadi masalah harus di selesaikan lewat literasi sebagai primus interperas (yang paling utama) disamping solusi yang bersifat birokratis sebagai the second (yang kedua).

Namun sayangnya literasi kita masih terjebak pada masalah di dua ranah, yang pertama ranah konseptual dan kedua ranah praktikal. Dari ranah konseptual, konsep literasi masih didefinisikan dan kemudian dimaknai hanya sebatas persoalan bisa baca lalu selesai. Akibatnya  kemudian di ranah praktiknya, literasi menjadi hanya soal meningkatkan berapa jumlah buku yang di baca oleh individu dalam sebulan. Populisme  gerakan, formalitas program, dan ketidakterhubungan antara visi dan misi kedepannya adalah 3 fenomena yang sering saya jumpai  terjadi akibat kesalahan diranah konseptual dan praktik ini. Akibatnya, jawaban literasi sebagai solusi hoax akhirnya gugur dengan sendirinya, karena literasi yang ada saat ini tidak berdaya sebagai kekuatan penyeimbang hoax yang masif, sistematis, dan manipulatif.

Tentunya kemudian muncul pertanyaan kritis literasi yang seperti apa yang harusnya di bentuk? Strategi yang seperti apa yang harusnya di laksanakan? Dan logika gerakan seperti apa yang harus di terapkan ?.


Membongkar Konsep Usang Literasi

Benak publik menanggap literasi sebagai solusi untuk menghadapi hoax karena literasi berurusan dengan perbaikan akal, hoax di pandang sebagai bentuk ketidakwarasan akal dalam hal menggunakan medium-medium informasi. Namun literasi juga perlu dikaji, apakah literasi saat ini sudah efektif memperbaiki akal atau justru menumpulkan akal?.

Literasi pada dasarnya bukan soal kuantitas kemampuan membaca buku, banyaknya menulis, atau banyaknya informasi yang kita tumpuk di kepala yang selama ini kita praktikan. Jika literasi hanya soal bacaan fisik, tentunya akan tertatih dalam melawan hoax yang masif, sistematis, dan manipulatif.

Sudah selayaknya kita harus memahami literasi sebagai sebuah proses berkelanjutan untuk: (1) menajamkan pikiran, baik secara kolektif maupun individu; (2) memperbaiki sikap dan tindakan; dan (3) menyeimbangkan kesadaran individual dan kesadaran sosial lewat berbagai medium fisiologis, baik kinestetik, visual, audiotory. Dengan indikatornya yang harus mentransformasi individu dan masyarakat di ranah etos (karakter), mitos dari berpikir irrasional menjadi rasional, dan logos dari keseragaman menjadi keberagaman, yang saling membangun dengan berpedoman pada wawasan nasional suatu bangsa yang mecakup: visi, misi, dan tujuan suatu bangsa.

Produk literasi dengan konsep ini secara konseptual  bukan lagi hanya sebatas membaca buku dan membeo pada pemikiran tertentu, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri, dan secara praktikal memproduksi pemahaman baru  dan saling keterkaitan antar manusia untuk mencerdaskan sesama anak bangsa. Mempertajam, menyeimbangkan, dan memperbaiki laku tindakan, inilah sebenar-benarnya konsep literasi yang akan berdampak pada peningkatan nalar akal sehat.

Prasyarat bagi masyarakat yang berakal sehat ada tiga hal progresif, humanis, dan berkesadaran. Kalau kita sambungkan antara konsep literasi yang saya tulis di atas dengan prasyarat masyarakat berakal sehat maka ketiga konsep literasi saling terhubung dengan salah satu pra-syarat masyarakat berakal sehat, karena masyarakat yang progresif akan timbul ketika penajaman pola pikir dilakukan, yang humanis akan timbul dari upaya perbaikan sikap dan tindakan, dan yang berkesadaran akan timbul  sebagai akibat dari keseimbangan kesadaran. Ranah praktik untuk mewujudkannya, salah satunya adalah dengan memetakan gaya literasi di masing-masing wilayah, mengembangkan iklim dialog dan laku tindakan yang  inspiratif, menyediakan medium counter culture  (melawan budaya yang menindas), membangun basis creative capital, serta mereproduksi dan membuat jejaring antar intelektual organik.

Jika 3 prasyarat konseptual dan ke lima praktik itu terpenuhi maka literasi bisa menjadi penyeimbang hoax yang memiliki skema yang masif, sistematis, dan manipulatif. Selanjutnya dari hal yang saya tulis diatas, literasi perlahan akan dapat menjawab 7 dosa sosial yang dilahirkan hoax, yang saya ambil dari ide Gandhi, yaitu: politik tanpa prinsip, yang kita lihat hari ini dalam bentuk politik demagog (tidak mendidik); kekayaan tanpa kerja keras (dalam bentuk mafia hoax); perniagaan tanpa moralitas (dalam bentuk  kapitalisasi hoax); kesenangan tanpa nurani (dalam bentuk immoralitas menggunakan medium informasi); sains tanpa humanitas (dalam bentuk penciptaan teknologi yang menyingkirkan manusia dan alam secara perlahan); dan peribadatan tanpa refleksi pengorbanan  (dalam bentuk menggunakan agama menebarkan hoax) 

Ketika litelarasi sudah sampai pada titik menjawab 7 dosa sosial penyebab hoax tersebut, maka literasi bisa menjadi jawaban untuk mengatasi hoax.

Senin, 29 Juli 2019

MERAWAT INGATAN : DARI KABUYUTAN KE TBM

Juli 29, 2019



“The struggle of man against power is the struggle of memory against of forgetting”
Milan Kundera, 1996:4.


MERAWAT INGATAN DAN KABUYUTAN.

Kekuatan apa yang sedang mengancam kita? Ancaman dunia dewasa ini adalah eksploitasi kesadaran kemanusiaan manusia secara masif. Disana ada yang disebut post truth dan framing-nya, ada moral hazard pendidikan kita, ada tirani kapitalis yang mengendarai globalisasi, dan lain-lainnya, dan sebagainya.  Sebuah kekuatan yang dimaksud secara khusus oleh Milan Kundera sebagai kekuatan yang korup dan menindas.

Dalam bukunya,  John Farndon (2011:364) menempatkan menulis sebagai gagasan kedua terbesar yang mengubah dunia.  Tulisan menjadi penanda kita meninggalkan era prasejarah menuju zaman sejarah. Berbeda dengan lisan, tulisan memungkinkan informasi dapat diterima oleh siapapun yang membacanya, tanpa harus bertatap muka. Selain itu, tulisan dapat menyimpan informasi lebih lama dan menjaganya persis seperti saat pertama kali disampaikan. Tulisan merawat ingatan.

Dalam Bab “Buku dari Kabuyutan” di buku “Googling Gutenberg" karya Atep Kurnia (2019), menyebutkan keberadaan Kabuyutan sebagai tempat penulisan, penyalinan, penyimpanan naskah. Atep memberi padanan Kabuyutan dengan Skriptorium (jamak: skriptoria; wikipedia) adalah tempat penyalinan naskah-naskah manuskrip. Pada awalnya merupakan nama ruangan di dalam biara untuk menyalin manuskrip oleh penulis monastik. Monastik (akar katanya monos = sendiri; wikipedia) sendiri merupakan praktik keagamaan berupa tindakan menafikan segala hasrat keduniawian dengan maksud membangkitkan hidup semata-mata bagi kegiatan kerohanian.

Kembali ke Kabuyutan, masih menurut Atep, bahwa keberadaan Kabuyutan sebagai media interaksi antara budaya Sunda dengan budaya luar, sehingga terbentuk suatu pengalaman baru. Kabuyutan memegang peranan penting dalam mentransformasikan tradisi lisan menjadi tradisi literasi. Transisi tersebut terlihat dari cara pembacaan yang masih dengan cara suara lantang (reading aloud), belum sampai ke cara membaca sunyi (silent reading).

Namun, tradisi literasi pada saat itu masih terbatas pada kalangan tertentu saja, masih bersifat elitis. Selain itu, pergeseran fungsi kabuyutan dengan menempatkan naskahnya sebagai artefak dan untuk membukanya diperlukan ritual khusus. Pergeseran fungsi ini, selain terjadi di Kabuyutan Ciburuy, ditemukan pula di Dusun Prawira, Kabupaten Lombok Utara.
Menyambut baik gagasan untuk merevitalisasi fungsi Kabuyutan, yakni dengan menumbuhkembangkan kembali literasi baca-tulis. Tentu saja kali ini harus menghilangkan sifat elitisnya, yakni bisa di akses oleh masyarakat, maka Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sejatinya dapat mengemban fungsi ini.


LITERASI BACA-TULIS DAN TBM.

TBM dalam perannya mengembangkan budaya baca masyarakat, mengemban tanggung jawab untuk menciptakan masyarakat gemar belajar yang berdampak pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Sejalan dengan apa yang di kampanyekan oleh Kementrian pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN), yakni mencakup 6 literasi dasar, terutama literasi baca-tulis.
Dalam buku elektronik Materi Pendukung Literasi Baca Tulis yang diterbitkan Kemdikbud, literasi baca-tulis didefinisikan sebagai engetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.  Dalam akivitas literasi baca-tulis terjadi yang dinamakan knowledge sharing / knowledge transfer. Aktivitas ini mensyaratkan perlakuan ilmiah terhadap ilmu pengetahuan sehingga ilmu pengetahuan tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan (what to be), lebih jauhnya dapat menggerakan atau mentransformasikan seseorang (baca : individu) dan atau organisasi menjadi lebih efektif, efisien, fleksibel dan adaptif (how to be) terhadap perubahan yang serba cepat.

Pemahaman ini menjadi penting bagi pengelola TBM dengan layanan pustaka sebagai layanan utamanya. Baik itu hanya berupa : layanan ruang baca, sirkulasi bahan pustaka, atau bahkan layanan kelompok pembaca. Mengetahui jenjang membaca pemustaka diperlukan supaya pengelola TBM dapat membantu pemustaka memilih bacaan yang tepat. Ada 2 cara pokok dalam mengidentifikasi jenjang membaca, yaitu : respons lisan dengan menceritakan kembali dan respons tertulis. Respons tertulis, secara umum membahas : alur (awal-tengah-akhir) dan narasi cerita, menjelaskan latar, membuat karakter yang kuat, membuat akhir yang berkesan, bermain dengan sudut pandang. Respons terhadap bacaan oleh pembaca merupakan langkah awal menuju ke menulis. Sehingga literasi baca-tulis merupakan satu kesatuan proses. Respons ini sebagai reproduksi pengetahuan secara sederhana, berdasarkan pengalaman membaca.

Khusus sebagai bekal di era post-truth dan menghadapi hantu framing, membaca kritis dapat memberikan keterampilan yang kita butuhkan (Dewayani, 2017), yaitu : menjadi pengguna yang bijak (mengakses konten yang aman dan bermanfaat), menjadi pengguna kreatif (berbasis pada karya dan memiliki kepedulian sosial), menjadi pengguna kritis (selalu memastikan sumber yang kredibel), menjadi pengguna produktif (tidak hanya sebagai pengakses informasi tetapi juga penghasil informasi).

Literasi baca-tulis yang dilakukan memenuhi prinsip: holistik (utuh dan menyeluruh), terintergrasi (terpadu), berkelanjutan (sustain), kontekstual, serta responsif terhadap kearifan lokal akan menumbuhkan empati kita. Empati sebagai inti dari kemanusiaan adalah senjata untuk melawan keserakahan. Empati akan membawa kita kepada keadilan sosial. Keserakahan akan menjerumuskan kekuatan menjadi korup dan menindas.


Aris Munandar – Founder Matahari Pagi
Tulisan ini dimuat juga di laman www.ftbm.go.id dan www.pamatriliterasi.com 

Rabu, 19 Juni 2019

Pentingnya Mental Pembelajar Bagi Orangtua

Juni 19, 2019


Sebagai orangtua, kita memang memikul tanggung jawab besar, tentang bagaimana mendampingi mereka sehingga siap berkompetisi dalam kehidupan yang bergejolak ini. Menjadi orangtua adalah profesi paling penting di dunia, alam memang memberikan impuls alamiah yaitu memberikan kapasitas kepada orangtua untuk mencintai anak-anaknya, namun kenyataannya saat ini kita butuh lebih dari sekadar dorongan kasih sayang untuk mengemban tanggung jawab sebagai orangtua. Kita butuh pengetahuan sebagai modal untuk membuat konsep pendidikan yang runut dan terarah, seperti halnya profesi lain, yaitu desainner, koki, guru, pilot, sutradara, dibutuhkan pengetahuan dan jam terbang, begitupun menjadi orangtua, kita tidak otomatis menjadi orantua saat anak lahir, perlu terus belajar dan tentu saja butuh jam terbang.

Menjadi orangtua merupakan tugas yang sangat kompleks, menurut Charlotte Mason, idealnya setiap orangtua wajib menguasai dasar-dasar fisiologi dan psikologi sebagai bekal minimal untuk mengasuh anak. Bagaimana menjalani kehamilan yang sehat, bagaimana menyediakan standar emas makanan untuk bayi, bagaimana mencukupi kebutuhan fisiknya akan sinar matahari dan udara segar, pengetahuan fisiologis seperti ini  memfasilitasi anak bertumbuh optimal. Bagaimana merespon tangisan anak semasa bayi, bagaimana menghadapi kenakalannya di periode terrible two, bagaimana membantunya mengelola emosi-emosi negatif seperti sedih, marah, benci tanpa sikap destruktif, pengetahuan psikologis semacam ini akan mencegah orangtua frustasi, sekaligus membuat jiwa anak berkembang sehat.

Namun seperti yang Charlotte Mason sebutkan tadi, pemahaman fisiologis dan psikologis adalah bekal minimum, sedangkan pada abab 21 ini, kita butuh pemahaman mengenai kondisional terkini, yakni medan yang akan dihadapi oleh anak kita; serba bergejolak dan serba tidak pasti, dan untuk bisa bertahan dalam kondisi seperti ini anak wajib memiliki keberanian dan terlatih dalam menghadapi tantangan, hal ini penting agar anak-anak kita tidak masuk dalam golongan yang disebut-sebut sebagai generasi wacana, yang bisanya ribut di media sosial, membuat meme namun tidak berani bertindak. Apalagi, mengambil keputusan.

Permasalahannya, terkadang kita tidak sadar mengambil jatah hak anak kita dalam berlatih mengambil keputusan, kita terlalu over protective dan cenderung memaksakan, menjejali anak kita dengan berbagai les tambahan, membatasi pertemanan mereka, memaksakan jurusan yang orangtua anggap keren, masuk kelas IPA saja karena biasanya yang masuk kelas IPA pintar-pintar, padahal setiap jurusan punya rute masing-masing untuk mengantarkan anak kita ke gerbang cita-citanya. Bahkan tak jarang anak belum tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar, mau kuliah di mana? Swasta atau negeri? Dan akhirnya orangtua pun ikut menentukan, takut jika anaknya salah mengambil jalan. Maka tidak heran anak menjadi sering galau, galau mengambil jurusan sarjana nuklir tapi akhirnya berkarier di bank, sarjana pertanian jadi wartawan, susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, tetapi begitu lulus maunya jadi motivator.

Menjadi orangtua nyatanya jauh lebih kompleks dari yang kita duga, butuh kesadaran tinggi bahwa hidup kita bukanlah hidup anak kita, sehingga tidak perlu menjejalkan harapan kita pada anak. Kembali kepada fungsi utama orangtua yaitu menemani anak kita dalam proses latihannya sehingga kelak anak dapat berdiri tegap menghadapi rintangan hidup dan menelurkan karya-karya dengan bahagia.

Seperti halnya dalam dunia game, keseruan tersebut bisa kita ciptakan dalam dunia nyata. Dunia game bagi anak sangat apresiatif, ketika anak kita bergabung dalam suatu game, mereka langsung disambut dengan meriah. “Selamat datang. Inilah pahlawan yang akan membebaskan bangsa kita dari cengkeraman mahkluk jahat.” Begitulah sambutannya, kemudian anak kita diberi pengarahan dengan jelas tentang musuh-musuh yang akan mereka hadapi. Siapa saja mereka, apa saja kehebatannya dan sebagainya. Untuk menghadapi para musuh anak kita juga dibekali dengan berbagai senjata ampuh dan amunisi lainnya. Dan dalam game anak diperbolehkan memilih senjata atau perlengkapan lain yang sesuai dengan kebutuhan, selain canggih dan imajinatif, momen seperti itu penting sekali bagi anak, mereka diperbolehkan mengambil keputusan. Memilih perlengkapan yang sesuai kebutuhan itu sebenarnya sederhana, sesederhana memilih baju yang ingin dikenakan, tapi proses itu penting, anak kita belajar mengambil keputusan. Selain itu, dunia game menyajikan petualangan bagi anak, keseruan ketika beraksi, apresiasi ketika berhasil, dan dorongan untuk mencoba lagi ketika anak kita gagal.

Sejujurnya apa yang anak butuhkan tidaklah mahal, mereka hanya butuh ruang untuk mengembangkan imajinasinya, membuat segala sesuatu menjadi seru dan menyenangkan, karena sejatinya mereka butuh gairah untuk menyelesaikan tantangan. Bukanlah petuah mengenai ini dan itu, namun ruang untuk uji coba, lebihnya apresiasi serta dorongan untuk mencoba lagi. Kita memang membutuhkan waktu untuk berproses menjadi orangtua yang memahami kebutuhan anak, yang terpenting bukan kesiapan namun semangat untuk terus belajar dan membuka komunikasi dengan anak-anak kita, sehingga kita bisa lebih tepat dalam memberikan bekal dan rangsangan.


Hazar Widiya SarahKonseptor Sahabat Kita dan co-founder Matahari Pagi.

Selasa, 04 Juni 2019

Orisinalitas, Kata Kunci Menghadapi Hari Esok

Juni 04, 2019


Orisinalitas menjadi kata kunci dalam proses pembentukan konsep diri anak, mengapa demikian? Proses orisinalitas bermula pada kreativitas, artinya membetuk sebuah konsep yang baru dan bermanfaat. Namun tidak hanya sampai di situ saja. Anak yang berpikir orisinal akan mengambil inisiatif untuk mewujudkan visinya. Hal ini menjadi sangat penting, karena dengan merealisasikan ide yang ada dalam benaknya itu menjadi ladang untuk tumbuh dan berkembang. Daniah Farrah merupakan anak pertama kami, dan ketika Daniah lahir, kami sepakat untuk memberinya hadiah berupa “kesempatan yang sama dan ruang untuk bereskplorasi”.

Kendati pun dalam kehidupan, yang disebut orisinal itu adalah ide yang muncul dari hasil pembelajaran yang anak serap di berbagai sumber. Anak akan selalu meminjam pemikiran-pemikiran yang sudah ada baik disengaja maupun tidak, anak memang rentan terhadap  “Kleptomnesia”- secara tidak sengaja mengingat ide-ide orang lain sebagai ide sendiri. Contohnya beberapa tahun yang lalu saat Daniah berumur 3 tahun, dia sedang gemar menonton Disney Junior, salah satu tayangannya Winnie The Pooh, dan Sofia the First, tapi dalam tayangan tersebut bukan Sofia yang menjadi sumber inspirasinya melainkan sosok Putri Amber yang sering membuat pesta minum teh. Upaya Putri Amber untuk membuat pesta yang sempurna itulah yang menjadi spirit utamanya, Daniah pun bertekad ketika dia mencoba membuat sesuatu maka harus diupayakan sempurna. Dan itu terbukti ketika dalam serial Winnie the Pooh ada adegan Winnie dan teman-temannya membuat museum, Daniah pun sama membuat projek yang dinamakan museum batu dan galeri seni. Pagi-pagi Daniah berkeliling perumahan untuk mencari batu atau ranting pohon yang sudah jatuh, kemudian di cat warna-warni dan di jemur, besoknya dia mulai melukis di atas keramik yang tidak terpakai, bapaknya menjadi asisten kala itu, membantu mencuci keramiknya sebelum dilukis. Kami tidak pernah mencoba menggurui, memberitahu hal ini dan itu, kami hadir hanya untuk membantu dan mengawasi. Projek yang dia buat dengan tekun selesai satu minggu. Oleh daniah hasil karyanya di pajang di ruang keluarga, hal tersebut menjadi kebanggaannya dia berhasil merealisasikan idenya, menyadur dari berbagai serial kartun, yang dia kolaborasikan dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang baru, yaitu museum dan galeri seni hasil ciptaanya. Jika demikian orisinal berarti mengambil, menggabungkan lalu merenovasinya menjadi bentuk yang baru.

Adam Grant, memetakan ada dua jalan menuju keberhasilan yaitu konformitas dan orisinalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan biasanya juga menjaga status quo. Sedangkan orisinalitas adalah memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan ide-ide baru yang melawan arus, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Dua jalur di atas tadi menjadi gambaran umum mengenai medan yang akan dihadapi anak kita kedepannya, saat anak dewasa dan mulai hidup mandiri. Jika demikian konsep pendampingan orangtua menjadi sangat penting peranannya, anak kita perlu dilatih untuk berpikir kreatif alih-laih hanya menjejalkan hapalan saja dan memaksa anak untuk memusatkan energinya melahap pengetahuan yang kita sodorkan, tetapi abai melatih anak untuk menghasilkan sesuatu yang baru.

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi bintang yang cemerlang, berhasil memenangkan hidupnya, namun kondisional saat ini dengan adanya iklim globalisasi mengharuskan kita memasang strategi baru dalam hal mendampingi anak, kita tidak lagi bisa menerapkan cara berpikir aman-aman saja (statis). Cerdas dalam hal menghapal saja belum menjadi jaminan anak kita akan berhasil menghadapi setiap ujian dalam hidupnya. Anak kita wajib diberi ruang untuk menuangkan segala idenya, dan dalam prosesnya anak butuh dikuatkan ketika hasil yang dibuat tidak sesuai dengan ekspektasi, terlebih anak kita butuh lahan untuk setiap proses gagal-berhasil agar kelak ketika anak kita dewasa, dia menjadi petarung yang berbahagia.


Hazar Widiya Sarah – Konseptor Sahabat Kita.

Jumat, 31 Mei 2019

KBC Berbagi Cahaya Ramadan

Mei 31, 2019


KBC News - Komunitas Berbagi Cahaya (KBC)selama bulan ramadan mengadakan rangkaian kegiatan sosial yang dinamai Berbagi Cahaya Ramadan (BCR). Kegiatannya, antara lain: berbagi sembako, dan paket lebaran kepada dhuafa. Seperti kegiatan pada hari kami, 30 Mei 2019 kemarin, misalnya. BCR diselenggarakan di Kampung Patrol RW.08 Kelurahan Baleendah dan sekitarnya. Pembagian paket sembako ini bekerjasama dengan YBM PLN yang 'blusukan' langsung ke rumah warga dhuafa yang berdomisili di RW.08. Pada kegiatan tersebut, turut mendampingi relawan KBC simpul Patrol dan Ketua RW.08, Haji Hidayat. (yusponto)





"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"